Lembayung senja menyelimuti langit sore itu. Sawah milik Pak Karmijan terbentang luas sejauh mata memandang. Daun-daun padi bergerak pelan tertiup angin. Batang dan daun padi—yang biasa disebut dami—melambai serempak seperti sedang menikmati kesejukan sore. Warna hijau memenuhi hamparan sawah, membuat suasana tampak tenang dan indah.
Namun, di tengah hamparan padi itu, ada beberapa tanaman yang terlihat berbeda. Tanaman itu tumbuh di sela-sela padi, ikut menikmati air sawah, pupuk, dan perawatan dari Pak Karmijan.
Tanaman itu bernama genjer.
Berbeda dengan padi yang tumbuh rapi mengikuti barisan, genjer tumbuh semaunya sendiri. Daunnya melebar dan menjulang lebih tinggi dari padi di sekitarnya. Tanaman itu menutupi sinar matahari yang dibutuhkan padi untuk tumbuh. Genjer tidak mau mengikuti aturan sawah seperti tanaman padi lainnya. Ia tumbuh liar dengan caranya sendiri.
“Hei, padi-padi bodoh!” seru Genjer dengan sombong. “Hidup itu bebas. Mengapa kalian mau terus diatur oleh Pak Tani? Lihat aku, tumbuh sesukaku. Daunku lebih besar dan lebih tinggi daripada kalian.”
Padi-padi hanya diam. Mereka tetap tumbuh rapi mengikuti alur sawah.
Hari demi hari, genjer semakin besar. Keberadaannya mulai mengganggu pertumbuhan padi. Pak Karmijan yang sedang memeriksa sawah akhirnya menyadari hal itu.
“Lho, kenapa ada tanaman tumbuh tidak beraturan seperti ini?” gumamnya. “Yang lain tumbuh rapi seperti padi pada umumnya, tetapi yang ini justru semaunya sendiri.”
Pak Karmijan pun turun ke sawah. Dengan hati-hati, ia mencabut genjer-genjer yang tumbuh di antara padi.
“Maaf ya, Genjer,” katanya pelan. “Sawah ini tempat untuk padi yang tumbuh teratur. Bukan karena aku membencimu, tetapi kamu memang tidak cocok hidup di sini. Tempatmu bukan di sawah padi, melainkan di rawa yang bebas untukmu tumbuh.”
Genjer akhirnya dicabut dan dipindahkan dari sawah itu.
Begitulah kehidupan. Setiap tempat memiliki aturan dan penghuninya sendiri. Tidak semua hal cocok berada di tempat yang sama. Jika seseorang atau sesuatu tidak sesuai dengan lingkungannya, mungkin sebenarnya ia memiliki tempat lain yang lebih tepat untuk dirinya berkembang.
Setiap tempat ada kesepakatan bersama yang harus dipatuhi bersama. Jika ada orang yang tidak mau mengikutinya bisa jadi orang tersebut hidup di tempat yang tidak tepat. Oleh karenanya patuhi kesepakatan bersama itu. Jika tidak berkenan, bolehlah untuk hidup di tempat yang cocok menurut kamu.

Komentar